Wamendes: Indonesia Jangan Hanya Jadi Pasar E-Commerce, Tetapi Juga Produsen

dcffgg

Menurut data riset yang dilakukan oleh Google, Bain & Company dan Temasek nilai transaksi e-commerce Indonesia berdasarkan metode Gross Merchandise Value (GMV) mencapai US$ 21 miliar. Nilai tersebut setara dengan Rp 294 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.000/US$.

Pada tahun 2025 dengan laju rata-rata tahunan (CAGR) mencapai 48%, Google, Bain & Company serta Temasek memperkirakan nilai transaksi mencapai US$ 81 miliar.

Wakil Menteri Desa PDTT, Budi Arie Setiadi menyayangkan perkembangan nilai transaksi e-commerce yang besar ini hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar. Dimana toko-toko online kita masih 90% menjual barang-barang impor.

“Kita tahu, kita terbuka saja, bahwa toko-toko online masih 90 persen barang-barang impor, walaupun banyak yang bilang sudah turun 75 persen. Tetapi inikan ironis sekali, e-commerce merebak dimana-mana ternyata cuma menjadikan Indonesia sebagai pasar,” ujar Budi Arie dalam webinar Sonora FM, Sabtu (25/7/2020).

“Karena itulah kita juga mendorong supaya Desa, atau lewat BUMDes ini, bisa memproduksi barang-barang yang bisa dipasarkan melalui ekosistem digital, sehingga tidak menjadikan Indonesia sekedar sebagai pasar tetapi juga menjadi produsen bagi kebutuhan masyarakat Indonesia,” jelas Budi.

Ia juga optimis jika produk BUMDes terus ditingkatkan, maka bisa dipasarkan hingga pasar Internasional. Untuk itulah BUMDes perlu terus didorong selama 5 tahun ke depan ini untuk mampu memproduksi produk-produk unggulan yang bisa diterima pasar Internasional.

“Kita harus terus mendorong agar desa – desa atau BUMDes ini bisa memproduksi produk – produk unggulan sehingga bisa membuat barang-barang kita diterima di pasar internasional,” tutup Budi.

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tulisan Lain