Desa Wisata Wakatobi Harus Diimbangi Dengan Digitalisasi

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia (Wamendes PDTT RI), Budi Arie Setiadi saat menyelam di Wakatobi. (Foto: Dokumen/Kemendes PDTT)
Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia (Wamendes PDTT RI), Budi Arie Setiadi saat menyelam di Wakatobi. (Foto: Dokumen/Kemendes PDTT)

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia (Wamendes PDTT RI), Budi Arie Setiadi menyelam di Laut Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Sabtu (21/11/2020). Budi Arie menyelam dipandu instruktur dari Dive Center yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bersama Kanturu.

BUMDes Bersama Kanturu dikelola oleh empat desa di Kecamatan Wangi-Wangi yakni Desa Waha, Desa Koroe Onowa, Desa Wapiapia, dan Desa Sombu. 

Sebelum menyelam, Budi Arie yang didampingi Direktur Pengembangan Sumber Daya Alam Kawasan Perdesan (PSDAKP) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrsi (Kemendes PDTT), Mulyadin Malik tersebut berdialog dengan sejumlah kepala desa dan warga setempat. Menurutnya, Wakatobi memiliki potensi wisata yang luar biasa.

Baca Juga: Wamendes: Wakotobi Berhasil Mengentaskan Desa Sangat Tertinggal

Dalam dialognya, Budi Arie meminta pengurus BUMDes dan warga untuk menyusun sejarah desa-desa setempat dan mendokumentasikannya. Sebab menurutnya, sejarah menjadi daya tarik tersendiri untuk memikat para wisatawan.

“Yang diperlukan dari desa wisata itu sejarah. Bahasa inggrisnya story telling. Ini ceritanya apa, jadi ada cerita di balik sesuatu. Dari cerita itulah munculnya memori bagi wisatawan,” ujar Budi dalam keterangan tertulis yang diterima oramsprojo.id di Jakarta, Minggu (22/11/2020).

Budi Arie juga menyarankan BUMDes Bersama Kanturu untuk memperkaya ketersediaan kuliner dan souvenir khas daerah di area kawasan wisata. 

Menurutnya, kuliner dan souvenir khas daerah merupakan turunan destinasi wisata yang tidak boleh dilupakan.

“Wisata itu turunannya dua, yaitu kuliner dan souvenir khas daerah yang tidak ditemukan di daerah-daerah lain,” terangnya.

Budi Arie berharap, Wakatobi dapat menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia. Terkait hal tersebut, ia mengingatkan bahwa pengembangan wisata di Wakatobi juga harus diimbangi dengan digitalisasi desa-desa.

“Kekuatan desa wisata harus diimbangi dengan digitalisasi. Desa wisata itu temannya ya digitalisasi,” ujarnya.

Untuk diketahui, Dive Center yang dikelola oleh BUMDes Bersama Kanturu sendiri merupakan bantuan dari Kemendes PDTT. Selain Dive Center, menurut Wamendes PDTT, pihak Kemendes PDTT juga memberikan bantuan berupa restoran panggung di kawasan Dive Center tersebut.

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tulisan Lain